Senin, 15 Juni 2015

MELAWAN LUPA



 KAU YANG TAK PERNAH KU LUPAKAN

Alm.Ottys O Kambue,SE,ketika menerima Aspirasi Masyarakat Yalimek yang diserahkan Oleh Kepala Suku Mewakili Masyarakat Suku Yali Mek berupa Alkitab, Panah dan  kapak batu kepada tim pemekaran sebagai titipan aspirasi masyarakat untuk melanjutkan perjuangan pemekaran Kabupaten Yalimek (foto/Dok.OK)
 Oleh :
Alm. Ottys Otniel Kambue
 Ketua Tim DOB Yalimek

Ketika aku naik ke gunungku Elit yang tinggi dan terjal itu aku dampakan lembah lolin di bawah Gunung putih kau sedang tidur membentang luas dan lembah mu ku dampakan untuk suatu saat akan ku jadikan sebagai sebuah kota mini, dan ketika wilayah Yalimek ku jadikan sebagai sebuah kabupaten dengan Nama Yalimek.

Lolin bus, kau adalah lembah yang akan ku jadikan  menjadikan alternative sebagai pusat kota kabupaten Yalimek, moyangku memberi nama untuk lolin sebagai sebuah lembah kesayangan yang tidak pernah diganggu dan sangat asli.

Kekwaren bus, kau merupakan sebuah lembah yang merupakan lembah ketiga yang akan dipikirkan sebagai pengembangan kota ketika wilayah yalimek menjadi sebuah kabupaten Yalimek.
Sedangkan Wenput adalah sebuah lembah yang merupakan pusat pemerintahan sementara ketika kabupaten setelah terbentuk, wilayah yalimek sebagai sebuah kabupaten yang sangat strategis dan pusat pelayanan yang tidak akan menjadi sulit seperti daerah lain di pegunungan Papua.
Yalimek memang kabupatennya orang Papua dan oleh karena itu dari tukang menyapu sampai dengan kursi empuk nanti akan di duduki oleh orang Papua Asli.
 Dan tidak diberi kesempatan lagi bagi orang lain sebab rakyat di wilayah ini sangat tertinggal jauh dan untuk mengejar ketertinggalannya akan lakukan dengan cara seperti yang diamanatkan oleh UU otsus Papua. OK#

Diedit Oleh : Simson Yohame

Kamis, 11 Juni 2015

Histeografi Orang Papua ( oleh : I . S. Kijne )

Nubuatan Yang Ditulis Pendeta I.S Kijne, Untuk Masa Depan Rakyat Papua Barat. “Di atas batu ini saya meletakkan peradaban orang Papua, sekalipun ada orang yang memiliki kepandaian tinggi, akal budi, dan marifat, tetapi tidak dapat memimpin bangsa ini. Bangsa ini akan bangkit dan memimpin dirinya sendiri” yaitu filsafat warga Papua di bumi Cendrawasih, yaitu : "Barang siapa yang bekerja dengan jujur di alas tanah ini.... Mereka akan melihat tanda heran yang satu kepada tanda heran yang lain...." (Pdt. I. S Kijne tentang masa depan rakyat Papua Barat di Wasior Manokwari, 25 Oktober 1925)

SEPINTAS KISAH ALMARHUM OTTIS OTNIEL KAMBUE BERSAMA SEORANG MISIONARIS


 
Alm. Ottys O Kambue dan Pdt.Dr.Siegfried Zollner
Oleh : Pdt.Dr.Siegfried Zollner
Saya tidak ingat lagi, kapan saya bertemu pertama kali dengan saudara Ottis Kambue?
Dalam arsip saya, ada sepucuk surat yang saya tulis dan kirimkan kepada Ottis di bulan Agustus tahun 1999. Waktu itu Ottis sudah kuliah di STIE Otto Geisler (Sekarang: Universitas Ottow Geissler). Mungkin di tahun 1998 atau 1997 saya bertemu Ottis untuk pertama kalinya.  
Pada waktu itu saya berkunjung ke Papua dalam rangka perjalanan dinas untuk bertemu para penerima beasiswa dari United Evangelical Mission (UEM) Jerman di Indonesia.
Pada satu hari di Jayapura, saya mengemudi mobil saya ke Kotaraja untuk berkunjung ke keluarga pendeta Abraham Abisay yang menjadi Ketua Asrama STIE OG waktu itu. Saya sudah lama berkenalan dengan beliau sejak dia menjadi vikaris di Polimo (Kurima) dan di Angguruk. Sewaktu beliau bertugas selama empat tahun di Jerman, kami selalu bertemu. 
Waktu saya bertamu di rumah keluarga Abisay, muncul-lah seorang pemuda yang memperkenalkan dirinya: ”Saya  seorang Angguruk. Nama saya Ottis Kambue, saya baru masuk Asrama STIE OG”.  Pendeta Abisay terkejut:  ”Engkau betul dari Angguruk?  Saya pikir nama Kambue berasal dari Sorong! Saya harus memberikan kamar lebih dekat dengan anak-anak gunung!” katanya. ”Betul, saya sudah mengenal Bapak Pendeta waktu Bapak vikaris di Angguruk!” kata Ottis. ”Saya membantu Bapak di Sekolah Minggu Angguruk!” Sejak itu hubungan saya dengan Ottis tidak lagi putus.
Ottis menceritakan kepada saya bahwa dia lahir dan dibesarkan di kampung Piniyi sebagai anak dari Simeon Kambue. Simeon kemudian dipanggil untuk menjadi penginjil di daerah Kosarek, dan keluarganya, termasuk Ottis berpindah ke Kosarek. Bapaknya Simeon menguasai dua bahasa, yaitu bahasa Yali dan bahasa Mek, karena itu beliau sangat cocok untuk melayani di Kosarek. Tetapi karena harus bersekolah, Ottis terpaksa pindah kembali ke Angguruk dan tinggal beberapa tahun lamanya disana.
Memang Ottis menerima beasiswa dari Schwelm. Setelah Ottis dan saya berkenalan di asrama STIE OG, setiap kali saya ke Papua, kami mencari kesempatan untuk bertemu. Saya teringat sekali bahwa satu kali kami bertemu dengan semua penerima beasiswa dari Schwelm ke Depapre, Jayapura dan mengadakan ibadah. Dalam ibadah waktu itu, Ottis bermain gitar. 
Di tahun 2004, kami kembali bertemu di Wamena. Kali ini berbeda dengan beberapa tahun sebelumnya, dimana Ottis sedang berkampanye sebagai calon anggota (Caleg) DPR untuk Kabupaten Yahukimo. Dia menjadi calon dari Partai PIB, dan akhirnya dia terpilih. Terutama masyarakat Kosarek yang memilih dia, karena mereka mempercayai dia sebagai anak daerah yang akan memperjuangkan masa depan mereka. 
Pada satu hari, Ottis mengundang saya berjalan sekeliling Wamena. ”Mari Bapak, saya ingin menunjuk sesuatu kepada Bapak!” Kami pergi dengan mobil ke arah barat, dan kami melewati markas Batalyon yang baru didirikan di Wamena. ”Bapak, baca tulisan yang tertulis disitu!” kata Ottis. Saya membaca tulisan di depan markas ”WIM ANE SILI” (Tempat jeritan perang). Setiap orang Dani yang lewat di situ, pasti merasa takut melihat tulisan dan tempat ini. 
Di tahun 2006, Ottis pergi ke Jerman. Biaya perjalanan ditanggungmya sendiri, dan bersama dengan satu anggota dewan lain. Mereka juga membiayai perjalanan Natan Pahabol, koordinator Beasiswa Schwelm. Setelah kembali dari Jerman, Ottis menulis dan mempersiapkan satu majalah kecil dengan kesan-kesan perjalanan dan menyebarkannya di klasis-klasis mitra Schwelm di Papua. Barangkali majalah ini boleh disebut sebagai ”Majalah Kemitraan Pertama”.
Sebagai anggota dewan, Ottis memperjuangkan satu kabupaten baru, yaitu YALIMEK. Ottis menyadari bahwa dengan pembentukan Kabupaten Yahukimo pada 2004,  beberapa daerah di daerah sebelah timur dari Wamena sangat dirugikan. 
Pusat pemerintahan untuk Kurima, Angguruk, Kosarek dan beberapa daerah lain di sebelah utara pegunungan yang tadinya di Wamena dipindahkan ke kota Dekai (Yahukimo) yang jauh ke selatan. Pegawai-pegawai pemerintah yang dulu bisa dengan cepat datang ke Wamena untuk urusan dinas,  sekarang harus berjalan kaki ke Wamena baru memakai pesawat. Sering juga mereka memakai pesawat ke Jayapura dan dari Jayapura ke Dekai. 
Pemekaran bukan menjadi solusi mempercepat pembangunan, tetapi malah menjadi penghalang pembangunan dan kesejahteraan masyarakat! Sangat masuk akal bahwa penduduk di daerah-daerah pemekaran seperti Angguruk dan Kosarek tidak puas, karena itu menuntut agar daerah mereka menjadi kabupatan sendiri (Dimekarkan). Saya bisa mengerti Ottis dan teman-teman yang memperjuangkan pemekaran lagi. 
Sebenarnya, pemekaran di Papua dari 2004 sampai dengan 2014 merupakan satu kerugian besar untuk perkembangan di Papua, khususnya untuk daerah-daerah pedalaman. Sistem dan sarana pendidikan hancur, pelayanan kesehatan hancur, birokrasi berkembang seperti penyakit kanker dan menelan dana dan sumber daya manusia yang sangat dibutuhkan untuk perkembangan di banyak tempat lain. Generasi muda di tahun 2004-2014, terutama anak sekolah adalah generasi terhilang, atau ”a lost generation.”
Pasti Ottis menyadari bahwa pemekaran bukanlah solusi untuk kesejahteraan masyarakat, tetapi ia tetap berjuang. Ia tidak berhasil. Karena akhirnya Pemerintah di Jakarta menyadari bahwa dengan pemekaran, mereka tidak berhasil mencapai kemajuaan di Papua melainkan membuka jalan untuk melakukan berbagai cara agar bisa korupsi. 
Beberapa tahun lamanya,  saya tidak bertemu lagi dengan Ottis. Dua tahun lalu, saya berdiri di depan MAF Sentani dengan beberapa teman. Tiba-tiba satu orang beri salam kepada saya dan berkata: ”Bapak tidak lagi kenal saya? Saya Ottis!” Kami berpelukan. Betul, Ottis tidak lagi seperti siswa 20 tahun lalu yang saya jumpai di Asrama STIE OG. Badannya sekarang bertambah besar, rambutnya afrilook. Tidak lagi naik gunung dan turun lembah, mungkin hanya naik mobil saja. Tidak lagi makan betatas dan sayur asli, melainkan makanan di restauran atau di pinggir jalan di kota. Akibatnya tidak sehat. Tekanan darah tinggi dan berbagai gangguan kesehatan lain.
Saya sangat sedih dan berdukacita, waktu membaca berita duka atas meninggalnya Ottis Kambue. Satu anak-ku yang terkasih pergi dipanggil Tuhan. Tuhan, KehendakMu Terjadilah. (***)

Senin, 22 Juli 2013

LBA (Lahir Besar Angguruk) NAMA YANG KELIRU KARENA SALAH PENDIDIKAN ? TERHADAP ANAK-ANAK ANGGURUK!



LBA (Lahir Besar Angguruk) NAMA YANG KELIRU KARENA SALAH DIDIKAN ? TERHADAP ANAK-ANAK ANGGURUK!
 
Saat wawancara dengan Richo Kabak,Diasrama Pdt.S Liborang (22/07)
LamisiNews,Jayapura - “ Orang yang menamakan LBA itu dia tidak paham,dengan apa yang dia tulis LBA itu (Lahir Besar Angguruk). Kalau kita mau bilang LBA itu seperti teman-teman kita dari luar datang dan Lahir Besar diAngguruk itu baru LBA boleh. Tapi kalo orang Angguruk sendiri yang nenek moyangnya dan tete moyangnya sudah ditetapkan di sana tidak boleh bilang LBA! Karena dia adalah orang Angguruk memang pada dasar nya Tuhan ciptakan untuk  dia harus hidup diangguruk dan akan besar makan pun di Angguruk. Jadi ini semua salah! Salah Paham karena salah pendidikan oleh orang indonesia.”
Demikian penegasan salah satu putra terbaik Angguruk yang baru saja menyelesaikan Studi  sekolah penerbangan Di Australia , Richo Kabak, saat ditemui  LamisiNews, pada Senin (22/7/2013) di Asrama Putra Pdt. S Liborang Jayapura, Papua.
Menurut Prya yang disapa Afeneg ini, terjadi banyak masalah di Papua bukan hanya dilingkungan anak-anak Angguruk, salah satunya adalah kesalahan pendidikan Dasar,Menengah Pertama Hingga Menengah atas dalam upaya meng-indonesiakan anak-anak muda papua, ia mencontohkan yang terjadi Sekolah Dasar:” di Pendidikan Dasar juga sebenarnya sudah salah sistemnya. Tapi kita belajar, yang seharusnya didalam satu Ruang kelas untuk sekolah dasar itu sebenarnya 15 orang atau 20 orang. Tapi didalam satu ruang kelas diindonesia 30,40-50 orang didalam kelas. Maka saat bapak/Ibu Guru menjelaskan didepan yang lain tidur,gambar-gambar dan main-main. Akhirnya setelah selesai sekolah dasar ada anak-anak yang tidak tau nama Ilmuwan (Toko penemu) dan ada yang kurang mate-matik,dan ini semua gara-gara  sistem pendidikan orang indonesia yang kurang baik.” Ujar Richo.
Masalah yang paling mendasar menurut Richo, adanya kesalahan pendidikan dan dampak dari itulah anak-anak tidak mengerti apa yang mereka tulis itu benar atau tidak,dan ditanya fenomena seperti ini apakah ada kaitanya dengan Era Globalisasi? Menurutnya tidak ada kaitanya ke era globalisasi,semuanya terjadi karena pada dasarnya salah dididik:” Dan menyangkut fenomena seperti ini terjadi karena awalnya sudah salah didik,kalau kita melihat dengan cermat maka, ini terjadi hanya  ikut-ikutan karena awalnya salah dididik dan terjadi kesalahan pengetahuan pada anak-anak. Jadi cara berpikir dan cara menganalisa itu sudah jadi pengaruh makanya buat LBA dan lain-lain.” Jelasnya.
Dan, dari kesalahan pendidikan serta pengetahuan itu akan membuat anak-anak papua pada umumnya dididik untuk hidup dengan gaya hidup orang jawa” yang didik kita ini orang indonesia nah, orang papua itu diindonesiakan itu otaknya yang diindonesiakan bukan badan,tubuh,pikiran tidak dan gaya hidup orang papua itu diindonesiakan,” tambahnya
Kemudian, ditanya apa solusi yang bisa diambil untuk memberikan pemahaman kepada ade-ade untuk bisa lebih menyadari akan kesalahan-kesalahn yang terjadi saat ini dan kedepan lebih baik dari sekarang dirinya hanya menyarankan salah satu solusi terbaik untuk memberikan pemahaman adalah seminar dan diskusi, sebab  dari situlah anak-anak akan mengerti dan  memahami unutuk lebih mengenal diri serta mengetahui sistem yang telah mengajarkan  mereka “untuk ko harus begini dan begitu,yaitu sistem pendidikan RI yang mendidik orang papua dengan kejawa-jawaan” itu.” Makanya kita kalau mau menjelaskan biar orang-orang ini mengerti kita harus mengadakan seminar dan jelaskan sebenarnya ini pokok utamanya. Jadi yang bisa dipanggil LBA itu bukan seperti  marga kabak,siringon,yohame,pahabol dll, itu tidak! Tapi orang-orang lain bukan orang Angguruk yang lahir diAngguruk itu yang bisa dipanggil LBA dan yang bisa bikin komunitas orang-orang itu (bukan org angguruk), dan dalam seminar itulah pastinya mereka mengerti dan paham atas kesalahan itu”.  Tegasnya lagi.
Selain itu dirinya menyatakan bahwa saat ini dunia globalisasi adalah free choice, free speech and free expression, dan setiap orang punya kebebasan seluas-luasnya maka, tidak membatasi mereka namun meluruskan atas kekeliruan dan kesalahan yang ade-ade dong buat. Ditempat yang sama tanggapan serupa disampaikan oleh Fanuel Amohoso,menurutnya hal-hal yang terjadi saat ini adalah yang pertama, salah didikan, kedua, terlalu ikut arus:” yang terjadi saat ini menurut saya, yang pertama salah pendidikan dan yang kedua adalah anak-anak sedang mencari jati diri jadi apa yang mereka anggap baik serta membuat mereka happy,ikut saja.” Jelasnya.
So, maksud dari penulisan ini adalah memberikan pemahaman dan teguran agar hari esok lebih baik dari hari ini sebab saat berbicara nama besar Angguruk yang tanggung malu bukan hanya sekelompok orang yang tergabung dalam suatu komunitas namun yang akan tanggung malu adalah semua orang Angguruk atas kekonyol tersebut. Harapan kami saudara/i dapat memberikan saran,kritik dan solusi. Kita menyadari bahwa tak ada manusia yang sempurna selain Tuhan Yang Maha Esa maka, ketidak sempurnaan itu lah tanggung kita bersama sebagai Mahluk sosial untuk saling melengkapi dan dilengkapi demi hari esok yang lebih baik. Kesalah yang terjadi adalah Guru yang mendidik kita untuk menjadi lebih baik maka, jadikan kesalahanmu Pahlawan perubahan dalam dirimu. Wa waa........!!! God Bless

KNOWLEDGE
Belongs to the people
Tapi
Hati-Hati.....!!!!!!!


Minggu, 13 Januari 2013

RUMAH SAKIT “Effata” ANGGURUK DIZAMAN KEPEMIMPINAN ANAK PUTRA DAERAH

RUMAH SAKIT “EFFATA” ANGGURUK YANG BERDIRI TAHUN 1961 OLEH MISIONARIS JERMAN  DARI ZENDING GKI INI MASIH TERSIMPAN SEJUTA KENANGAN DAN SEJARAH YANG TAK BISA DILUPAKAN OLEH ORANG YALI PADA KHUSUSNYA. DAN BERIKUT HASIL WAWANCARA SAYA DENGAN KEPALA PUSTU RS “EFFATA” ANGGURUK, BUNG RUBEN SUHUNEAP TENTANG SEJARAH BERDIRINYA RS “EFFATA” ANGGURUK,PROSES PENGALIHAN PENGELOLAAN,VISI DAN MISI KEPALA PUSKES RS ANGGURUK DAN HARAPAN KEDEPAN!


Rumah Sakit “Effata” Angguruk tidak asing lagi bagi orang yali pada khususnya sebab RS ini berdiri sejak tahun 1961. Dan telah menjadi RS unggulan dikawasan Pegunungan tengah pada tahun 1961-1980an. Pendiri rumah sakit Effata Angguruk dr. friend Asal Jerman masuk pada Tahun 1961 bersamaan dengan Para Misionaris Penyiar Injil didaerah Angguruk-Yalimo. Rumah sakit dan Gereja Mulai perkembang sesuai dengan perkembangan zaman dan kemajuan hingga pada tahun 80an para perintis asal belanda mulai meninggalkan angguruk dan pengalihan pengelolaan RS Effata Angguruk pun beralih ke dokter heftra 1970- 1980-an dan berikut adalah nama-nama yang pernah menjabat sebagai pengelolah/kepala PUSKES RS “Effata” Angguruk:
1)      dr. friend 1961-1970-an
2)      sheftra 1970- 1980-an
3)      dr. singkeri 1980-1988
4)      dr. boy 1988-1990-an
5)      dr. artur 1990-1993
6)      dr. eko wulandari 1993-1997
7)      suster Rika Wayoi 1997-2001
8)      mantri Melkianus Wambrauw 2001-2003
9)      dr. Ronny 2003-2007
10)  2008-sekarang Ruben Suhuneap

WAJAH RS “Effata” Angguruk DIBAWA KEPEMIMPINAN
RUBEN SUHUNEAP,Amk
Pada tahun 2008 Bung Ruben Suhuneap,Amk  resmi menjadi kepala PUSKES Rumah Sakit “Effata” Angguruk. Visi dalam kepemimpinannya adalah mengembalikan keaslian PUSKES Rumah Sakit “Effata” Angguruk seperti semula (zaman misionaris belanda),untuk mencapai Visi tersebut misi yang telah dilakukannya adalah penghijauan Halaman PUSKES Rumah sakit “Effata” Angguruk penanaman pohon,bunga dihalaman Rumah  dan sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya kebersihan lingkungan. Sebab menurutnya lingkungan yang bersih memberikan udara yang segar untuk saluran bernapasan manusia.
Ia menjabat sebagai kepala PUSKES RS “Effata” Angguruk ini sejak bulan Desember tahun 2007/2008 lalu, ia menggantikan dr. ronny yang melanjutkan pendidikannya di pulau jawa. Dirinya dinobatkan sebagai pimpinan kepala PUSKES RS “Effata” Angguruk yang ke-10 oleh kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Yahukimo dan ia sebagai anak putra Daerah merasa memiliki tanggung jawab yang besar demi memajukan daerah dibidang Kesehatan. Ia mengaku dari kesembilan (9) pimpinan yang pernah menjabat sebagai kepala PUSKES RS “Effata” Angguruk tidak pernah ada perubahan dalam Rumah Sakit “Effata” Angguruk sendiri maupun Lingkungannya,seperti bangunan yang baru dan lain-lain:”dari peralihan kepemimpinan ke kepemimpinan tidak pernah ada suatu terobosan baru dan itu menjadi beban saya sehingga saya harus memulainya dari A,dari semua yang dilakukan bapak/Ibu yang menjabat disini saya sebagai anak putra daerah merasa tidak puas terutama untuk lingkungan”. Ujar Ruben saat diwawancarai (29/12/2012).
Perlu kita ketahui bersama bahwa perubahan yang terjadi di PUSKES RS “Effata” Angguruk ini tidak terlepas dari campur tangan dingin Bung Ruben Suhuneap, selaku kepala RS Efata Angguruk yang menjabat sejak tahun 2008 dan banyak orang yang datang ke angguruk entah itu dari kalangan masyarakat umum hingga pejabat tinggi kabupaten/provinsi menggagumi atas keberhasilan dalam pengabdian ini, dan ditanya soal apa yang memotivasinya sehingga ia melakukan semua ini ia mengaku dirinya sebagai anak putra daerah memiliki tanggung jawab yang besar dalam pelayanan serta perubahan dilingkungan RS Effata Angguruk:”Rumah Sakit Effata Angguruk ini tidak pernah ada perubahan sedikitpun, sejak kami berada dikabupaten induk Jayawijaya,hingga yahukimo dimekerkan, setelah tujuh tahun kemudian kita mendapat empat Unit Rumah berkat campur tangan pemerintah daerah kabupaten yahukimo”,tuturnya. Dirinya mengakui bahwa bangunan yang dibangun oleh misionaris yang berusia 52 tahun ini musti direnovasi ditambah dengan beberapa bangunan baru:”Saya berdoa dan berusaha kedepan saya dapat membangun beberapa unit Rumah. Sebab Angguruk ini kota kecil yang indah sejuk dan harus memiliki Rumah sehat”,singkatnya.
 Angguruk sebagai kecamatan induk dari beberapa Distrik Pemekaran seharusnya memiliki Rumah Sakit yang tidak kalah indahnya dengan dikota serta pemerintah dan Gereja harusnya saling mendukung:”untuk membangun Angguruk ini menjadi kota kecil yang indah dan nyaman. Pemerintah distrik,pemerintah daerah,Gereja dan Pihak Kesehatan harus duduk bersama dan mencari solusi demi kemajuan negeri ini, karena PUSKES RS “Effata” Angguruk menaungi wilayah tiga (3) Kab. Yahukimo dan pada umumnya menaungi wilayah pegunungan tengah dizaman dr. Vriend” ujar prya yang akrab disapa Rusu ini.
Oleh sebab itu ia berpesan kepada generasi penerus asal Angguruk pada umumnya agar generasi penerus harus tau bahwa Injil Gereja dan Kesehatan masuk ke Angguruk pada tahun yang sama,Tanggal yang sama dan Bulan yang sama maka ia menyebut Injil dan Kesehatan adalah Kembar:”Disini Injil dan Kesehatan kembar sebab mereka masuk bersama-sama. Setelah itu barulah Pendidikan,pertanian dan pemerintahan. Jadi generasi penerus harus tahu sejarah dan mencintai negeri ini. Setelah selesai datang kekampung halamanmu dan melayani dengan hati,orang angguruk jangan datang ke kampong halamanmu untuk dilayani tapi untuk melayani”,pesannya_*
Berikut gambar-gambar dilingkungan RS "Effata" Angguruk diluar  dan didalam Ruangan
jalan dari Rumah Kepala PUSTU menuju RS Effata
Kepala PUSTU Effata Angguruk Rubben Suhuneap, dari Rumahnya menuju UGD
Kepala PUSTU Effata ANgguruk sedang menuju Ruang Nginap
kepala PUSTU sedang menunjukan pintu masuk Ruang nginap pasien
didlam ruangan nginap
Ruangan nginap pasien
Kepala PUSTU sedang menarik mesin babat meninggalan missionaris yang membuka RS Effata Angguruk
kepala PUSTU sedang bersalaman dengan salah satu perawat/Bidan Marthina Kabak
petugas RS Effata Angguruk yang bertugas diloket
Kader yang datang mengambil obat-obatan untuk masyarakat pedesaan
Ruangan tunggu
Jalan umum menuju RS Effata Angguruk
Kepala PUSTU sedang mengambil data dari pasien
spanduk dijalan masuk
spanduk ini dibangun oleh missionaris bersamaan dengan bangunan RS Effata Angguruk
Kepala PUSTU RS Effata angguruk Bung Ruben, sedang menjahit luka salah seorang Pasien